
Perlawanan Rakyat: Pattimura hingga Pangeran Antasari
Babak 3: Era Kolonial & Perjuangan · Abad ke-18 - 19
"Perlawanan Maluku, Perang Padri, Perang Banjar, dan Perang Jawa. Para pahlawan bangkit melawan penjajahan dengan gagah berani."
Di seluruh Nusantara, rakyat bangkit melawan kolonialisme Belanda. Dimulai dari Perlawanan Maluku (1817) yang dipimpin oleh Pattimura dan Martha Christina Tiahahu. Perlawanan ini berlangsung karena Belanda memonopoli cengkeh dan memberlakukan kerja rodi. Hal ini tentu berdampak buruk bagi kesejahteraan ekonomi dan kehidupan masyarakat Maluku. Pattimura dan Tiahahu pun menyerang pihak Belanda hingga dapat menguasai Benteng Duurstede. Meski begitu, pada akhirnya perlawanan tidak mencapai puncak kemenangan, Pattimura dihukum gantung dan Tiahahu diasingkan ke Pulau Jawa. Selanjutnya, Perang Padri (1821-1838) yang merupakan perang saudara antara Kaum Padri dan Kaum Adat yang dibantu oleh Belanda. Perang ini terjadi di Minangkabau. Kaum Padri merupakan kaum yang menganut agama Islam dan dipimpin oleh Tuangku Imam Bonjol. Mereka ingin menghapuskan kebiasaan-kebiasaan masyarakat yang meyimpang dari ajaran agama, seperti mabuk-mabukan dan sabung ayam. Sedangkan, Kaum Adat merupakan kaum yang masih ingin berpegang teguh pada kebiasaan-kebiasaan tersebut. Belanda memanfaatkan hal ini untuk melakukan adu domba. Tetapi, Tuanku Imam Bonjol akhirnya dapat mempersatukan kembali Kaum Padri dan Kaum Adat. Perlawanan Minangkabau pun terjadi, meskipun akhirnya kalah dari Belanda. Selanjutnya, Perang Banjar (1859-1905) yang dipimpin oleh Pangeran Antasari. Perang ini disebabkan karena adanya pemberlakuan monopoli, kerja rodi, dan ke-ikut campur-an Belanda terhadap urusan-urusan Kesultanan Banjar. Pangeran Antasari pun menyerang pos-pos Belanda dengan membawa pasukan yang telah ia siapkan. Pasukan tersebut merupakan penggabungan antara para tokoh pemerintahan, pasukan militer, serta tokoh agama. Karena strategi pemilihan pasukan yang ia lakukan ini lah, is dijuluki sebagai Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin, yang artinya pemimpin pemerintahan, panglima perang, dan pemuka agama tertinggi Selanjutnya, Perang Jawa (1925-1930) yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro. Perlawanan Pangeran Diponegoro terhadap Belanda dilatar belakangi oleh pemasangan patok-patok jalan di atas makam para leluhur. Hal ini memicu kemarahan Pangeran Diponegoro karena dianggap tidak sopan dan keterlaluan. Perlawanan Pangeran Diponegoro meluas ke seluruh daerah di Pulau Jawa, sehingga disebut dengan Perang Jawa. Meski perlawanan ini lagi-lagi tidak dapat mencapai puncak kemenangan, tetapi Belanda mengalami kerugian yang sangat besar karena strategi perang Pangeran Diponegoro yang handal.
Peninggalan Utama
- Benteng Duurstede
- Benteng Fort de Kock
- Benteng Tabanio
- Tongkat Pusaka Kiai Rondhan
Highlight Budaya
- Perlawanan Pattimura di Maluku (1817) yang merupakan perlawanan awal dari bangsa Indonesia.
- Perang Padri di Sumatera Barat yang merupakan upaya adu domba oleh Belanda.
- Persatuan rakyat Banjar dalam melawan Belanda membuat Pangeran Antasari dijuluki sebagai Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin.
- Perang Jawa (1825-1830) yang menjadi salah satu perlawanan terbesar dan membawa kerugian kepada Belanda.

